
Aromaterapi Tea Tree Oil untuk Anak dengan ISPA: Cerita KIA Profesi Ners Saya
Cerita di balik penyusunan Karya Ilmiah Akhir profesi Ners saya — bagaimana aromaterapi uap tea tree oil membantu seorang anak dengan gejala ISPA ringan, mengatasi masalah bersihan jalan napas yang tidak efektif, dari pengkajian hingga evaluasi lima hari.
Perjalanan Menuju Karya Ilmiah Akhir
Menyusun Karya Ilmiah Akhir (KIA) untuk menyelesaikan Program Studi Profesi Ners bukan sekadar tugas akademik terakhir — ini adalah momen di mana semua ilmu yang saya pelajari selama praktik klinik benar-benar diuji di depan pasien nyata. Di peminatan Keperawatan Anak, saya memilih topik yang dekat dengan keseharian banyak orang tua: ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) pada anak, dan bagaimana terapi komplementer sederhana seperti aromaterapi uap tea tree oil bisa membantu meringankan gejalanya.
Judul lengkap KIA saya adalah: "Asuhan Keperawatan Anak Y dengan Pemberian Aromaterapi Uap Tea Tree Oil untuk Mengatasi Masalah Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif pada Kasus ISPA di Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Kota Padang."
Kenapa ISPA pada Anak?
ISPA sebenarnya bukan hal asing — hampir semua orang tua pernah mengalami anaknya batuk, pilek, atau hidung tersumbat. Tapi data yang saya temukan saat menyusun latar belakang cukup mengejutkan: menurut WHO, ISPA masih menjadi salah satu penyumbang terbesar kematian balita di dunia, dan Indonesia berada di peringkat kelima global untuk jumlah kasus ISPA pada balita. Di Kota Padang sendiri, kasus ISPA pada balita terus meningkat tajam dalam tiga tahun terakhir — dari sekitar 16 ribu kasus di 2022 menjadi lebih dari 106 ribu kasus di 2024.
Yang membuat saya tertarik, penanganan ISPA sebenarnya tidak melulu soal obat. Banyak anak justru sulit menerima obat oral karena rasa atau sensasi tidak nyaman di tenggorokan. Di sinilah terapi komplementer seperti aromaterapi punya peran — diberikan lewat inhalasi, non-invasif, dan bisa dilakukan orang tua sendiri di rumah.
Kenapa Tea Tree Oil?
Dari berbagai jenis minyak atsiri yang biasa dipakai untuk masalah pernapasan (seperti eucalyptus dan peppermint), saya memilih tea tree oil (Melaleuca alternifolia) karena kandungan terpinen-4-ol di dalamnya punya sifat antiinflamasi dan antimikroba, sekaligus membantu mengencerkan dan mengeluarkan sekret dari saluran napas. Aromanya juga relatif lebih ringan saat dicampur air dan disebarkan lewat diffuser, jadi cenderung lebih mudah ditoleransi anak dibanding minyak atsiri lain yang aromanya lebih menyengat.
Bertemu An. Y
Kasus yang saya angkat adalah seorang anak perempuan berusia 4 tahun 7 bulan yang saya panggil An. Y, tinggal di wilayah kerja Puskesmas Pauh, Kota Padang. Saat saya kaji, An. Y sudah tiga hari mengalami batuk berdahak dan hidung tersumbat, sempat demam dan radang tenggorokan meski sudah membaik. Ibunya bercerita anak jadi lebih rewel, kurang bersemangat, dan sering terbangun malam hari karena batuk.
Dari pemeriksaan, ditemukan bunyi ronki di kedua sisi paru dan frekuensi napas 30 kali per menit — di atas rentang normal untuk anak seusianya. Ibu An. Y sudah membawanya berobat ke puskesmas dan mendapat obat, tapi mengaku belum tahu cara perawatan rumahan lain yang bisa membantu meredakan batuk dan pilek anaknya. Dari sinilah saya melihat celah: ada ruang untuk memberikan edukasi dan intervensi komplementer yang mendukung terapi medis yang sudah berjalan.
Proses Asuhan Keperawatan
Sesuai kaidah asuhan keperawatan, saya menyusun tiga diagnosis untuk An. Y:
Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang tertahan Gangguan pola tidur berhubungan dengan kurangnya kontrol tidur Kesiapan peningkatan manajemen kesehatan pada keluarga
Untuk masalah utama (bersihan jalan napas), intervensinya mengombinasikan manajemen jalan napas standar dengan pemberian aromaterapi uap tea tree oil — dua tetes minyak dicampur 50 ml air dalam diffuser, dihirup selama 15 menit, satu kali sehari selama lima hari berturut-turut. Untuk pola tidur, saya edukasi ibu soal pengaturan posisi tidur. Sementara untuk kesiapan manajemen kesehatan, saya berikan edukasi tentang ISPA, faktor risiko, dan cara pencegahannya di rumah.
Perkembangan Selama Lima Hari
Ini bagian yang paling saya nikmati menuliskannya, karena benar-benar terlihat progresnya hari demi hari:
Hari 1: Napas masih 28x/menit, ronki masih terdengar, tapi anak tampak lebih tenang setelah terapi. Hari 2–3: Batuk mulai berkurang frekuensinya, dahak lebih mudah keluar, napas turun ke 26–27x/menit. Hari 4: Anak tampak jauh lebih nyaman bernapas, tidur malam lebih nyenyak, napas 24x/menit. Hari 5: Ronki nyaris tidak terdengar lagi, sekret minimal, napas stabil di 24x/menit, dan anak tidak lagi menunjukkan kesulitan bernapas.
Ketiga masalah keperawatan yang saya tetapkan di awal akhirnya dinyatakan teratasi pada evaluasi hari kelima.
Yang Saya Pelajari
Menulis KIA ini mengajarkan saya bahwa asuhan keperawatan yang baik bukan cuma soal menjalankan prosedur, tapi juga soal mendengarkan kekhawatiran orang tua dan mencari pendekatan yang realistis untuk diterapkan di rumah. Evidence-Based Nursing bukan sekadar istilah di buku teks — di kasus An. Y, saya benar-benar merasakan bagaimana bukti ilmiah bisa diterjemahkan jadi tindakan sederhana yang orang tua bisa lakukan sendiri, tanpa harus selalu bergantung pada obat.
Terima kasih tak terhingga untuk pembimbing saya, Ibu Dr. Ns. Deswita, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.An dan Ibu Ns. Ira Mulya Sari, M.Kep., Sp.Kep.An, yang membimbing saya dengan sabar sepanjang proses ini — juga untuk seluruh dosen Fakultas Keperawatan Universitas Andalas.
Semoga cerita ini bisa jadi referensi kecil, baik untuk teman-teman mahasiswa keperawatan yang sedang menyusun KIA, maupun untuk orang tua yang sedang mencari alternatif perawatan rumahan yang aman untuk anak dengan ISPA.
Catatan: Nama anak dalam cerita ini adalah inisial sesuai etika penulisan karya ilmiah untuk menjaga kerahasiaan identitas pasien.